Persyaratan Bahasa Inggris Untuk Masuk Universitas Oxford

Salah satu syarat masuk Universitas Oxford adalah kemampuan bahasa Inggris yang baik.

Berapa sih nilai TOEFL/IELTS yang dibutuhkan untuk bisa diterima di Oxford?

Ini saya kutip langsung persyaratannya dari website resmi Universitas Oxford ya:

Untuk S1, bisa dilihat di: http://www.ox.ac.uk/admissions/undergraduate/international-students/english-language-requirements

Diantaranya:

  • IELTS: overall score of 7.0 (with at least 7.0 in each of the four components)
  • TOEFL (paper-based): overall score of 600 with a Test of Written English score of 5.5
  • TOEFL (internet-based): overall score of 110 with component scores of at least: Listening 22, Reading 24, Speaking 25, and Writing 24.

Gimana cara dapat nilai TOEFL/IELTS yang tinggi?

Kalau menurut saya, harus banyak-banyak berlatih dan membiasakan diri menggunakan bahasa Inggris. Tidak ada jalan pintas hehe.

Saya pribadi dulu tidak ikut kursus persiapan TOEFL/IELTS, tapi saya banyak berlatih menggunakan tes tryout TOEFL (tes prediksi TOEFL). Semakin banyak berlatih, kamu akan semakin terbiasa dengan jenis dan format soal-soal yang diujikan, dan kamu akan merasa lebih percaya diri (ini penting! karena kalau kamu gugup, ini bisa berpengaruh ke kinerjamu di hari H dan akibatnya skormu bisa berkurang beberapa poin).

Saran saya juga, persiapkan dari jauh-jauh hari supaya hanya butuh ambil tes satu kali saja, karena tes TOEFL/IELTS yang resmi itu mahal kan… 🙂

 

Suka-duka mahasiswa S3 di Oxford

Wah… bakal bisa panjang kalo ngomongin suka-duka jadi mahasiswa doktoral.

Dan sepertinya saya ga sendirian, kalau kita lihat dari popularitas PhDComics (yang kebanyakan membahas dukanya… haha).

Tapi, apa aja sih suka-duka jadi mahasiswa doktoral di Oxford? Yang lebih spesifik gitu?

Baiklah, berikut ini suka-duka jadi mahasiswa S3 di Oxford versi saya:

Sukanya:

– Waaa, kota kecil!

Saya sebenarnya dibesarkan di kota besar (*pasang soundtrack “ke Jakarta aku, kan kembaliiii…”*), dan pertama pindah ke Oxford, langsung…. kaget. Ini apa sih, sepi banget? Dimana orang-orangnya?

Tapiii setelah hampir tiga tahun disini, saya jadi merasa nyaman dengan kota kecil. Kemana-mana bisa naik sepeda! Hampir ga ada macet! Mau ke supermarket tinggal jalan kucluk-kucluk ga perlu naik mobil, ga perlu kena macet. Tingkat polusinya rendah, ydaranya masih jauh lebih bersih dan segar… tiap pagi saya selalu dibangunkan oleh simfoni sekelompok burung di halaman belakang rumah. Kadang-kadang kezel bgt sama burung-burung itu, tapi ya inikan berarti bagus… burung aja masih mau menghirup udara di belakang rumah saya.

– Relatif aman dan tentram

Namanya pun kota kecil, relatif lebih ga neko-neko. Ga ada yang namanya geng motor dsb. Yang paling sering ya paling… maling sepeda.

Saking adem-ayemnya kota ini, sampai beberapa waktu lalu ada kebakaran di dapur sebuah hotel, langsung semua heboh! Belasan truk pemadam kebakaran dikerahkan, helikopter pemantau berputar-putar seharian… Padahal menurut ukuran Jakarta ini kebakaran levelnya kecil banget loh (area yang rusak hanya beberapa meter persegi, dan yang terpenting tidak ada korban luka atau korban jiwa sama sekali), tapi disini langsung dikategorikan sebagai kebakaran major.

– Banyak sumber ilmu yang melimpah-ruah

Di Oxford ada banyaaaaak sekali kuliah, seminar, diskusi, workshop, debat dll yang bisa diikuti dengan gratis. Dan tentunya dengan kualitas tinggi! (karena para ahli terbaik di bidangnya dari seluruh dunia datang ke Oxford). Segala macam topik pun ada. Mau ikut workshop cara carbon-dating? Ada. Mau ikut diskusi dengan para kepala negara? Bisa.

Sampai bingung milihnya…

Ah, seandainya saya bisa mengkopi diri saya untuk hadir di semua acara ini…

 

Dukanya:

– Standar para pembimbing saya yang tinggi.

Lho ini bukannya seharusnya masuk bagian ‘Suka’ ya?

….

Iya sih, saya bersyukur sekali punya pembimbing-pembimbing yang brilian… tapi kan… kadang-kadang (baca: setiap hari) suka ga pede. Belum ketemu pembimbing saya aja saya sudah bisa membayangkan reaksi mereka… Biasanya dalam beberapa detik langsung ngeh dengan apa yang saya omongin dan bisa langsung mengkritisi dengan detail. Yah Kakak*, gimana caranya bisa langsung tahu kelemahan analisa saya ini sih Kak? Padahal saya yang sampai semalaman ga tidur mikirin ini, ga kepikiran tuh… hiks.

*Kenapa saya panggil Kakak disini? Soalnya pembimbing saya yang kedua ini masih muda banget! Usianya hanya satu tahun diatas saya, tapi pengalamannya… Waw! (jauuuhhh). Saya biasanya memanggil beliau dengan nama depan saja sih, sesuai tradisi disini, tapi di blog ini saya akan menyebut beliau dengan tambahan Kakak, sesuai tradisi Indonesia 😀

Nah, kalau pembimbing saya yang pertama, jauh lebih tua dan lebih senior, jadi tentunya akan saya panggil dengan sebutan Ibu 🙂