About fara

Posts by fara:

Tanya-Jawab Seputar Oxford

Sejak menjadi Ketua Divisi Akademik PPI Oxford, saya sering menerima dan menjawab berbagai pertanyaan teman-teman yang tertarik mengenai Oxford, cara masuk Oxford, kuliah di Oxford, dan sebagainya. Untuk itu, saya dan teman-teman membuat halaman FAQ ini di situs resmi PPI Oxford: http://ppioxford.org/faq/. Check it out! 😉

Sekarang saya sudah bukan anggota pengurus PPI Oxford lagi, tapi masih sering mendapat pertanyaan serupa. Sebagai informasi tambahan untuk halaman FAQ diatas, ini saya lampirkan beberapa pertanyaan baru yang saya terima (berikut jawaban saya). Untuk teman-teman yang mencari informasi terkait, semoga ini membantu! 🙂

——-

T: Jurusan apa saja yang ada di Oxford University?

J: Sebenarnya informasi tentang jurusan apa saja yang ada di Oxford tersedia dengan lengkap di situs resmi University of Oxford.

Untuk s1 bisa dilihat di: http://www.ox.ac.uk/admissions/undergraduate/courses-listing
Untuk s2 dan s3 lihat di: http://www.ox.ac.uk/admissions/graduate/courses/courses-a-z-listing

 

T: Cara pembelajaran di Oxford bagaimana ya? Apakah terdapat perbedaan dengan kampus-kampus di Indonesia?

J:

Untuk Undergraduate (s1), perbedaannya akan sangat terasa, karena selain kuliah biasa, praktikum dan sebagainya yang serupa dengan sistem di Indonesia, Oxford juga memiliki sistem berbasis diskusi bernama tutorial yang jauh lebih intensif. Untuk contohnya, silakan lihat di: http://www.ox.ac.uk/admissions/undergraduate/why-oxford/studying-at-oxford/tutorials
T: Setiap student akan mendapatkan college (by default) meskipun tidak memiliki preferensi college tertentu?
J: Betul, setiap mahasiswa pasti (dan harus) mendapatkan college.
T: Apakah setiap newcomer student (undergrads/grads) harus stay dalam college (setidaknya setahun)?
J: Setahu saya, tidak ada keharusan untuk stay di college, tetapi untuk undergrads akan sangat memudahkan kalau bisa mendapat akomodasi di college, karena banyak sesi belajar-mengajar yang dilakukan di college (untuk post-grads, biasanya lebih banyak di department/fakultas).
T: Apakah bisa memilih akomodasi Off Campus (yang logikanya lebih banyak pilihan  & ekonomis)
Bila bisa, apakah pilihan hanya terbatas pada http://www.dailyinfo.co.uk/ ? karena craigslist juga menyediakan pilihan (atau sebaiknya dihindari?).
J: Tidak terbatas pada Dailyinfo kok, tapi harap berhati-hati karena ada banyak fraud, dan saran saya sebaiknya jangan pernah mengirimkan uang via Western Union dan semacamnya.

How a small act of kindness can change someone’s life

…. in this case, help the making of the first female winner of the ‘math Nobel Prize’ (the Fields Medal).

“The principal of the school was a very strong character,” Mirzakhani recalled. “If we really wanted something, she would make it happen.” The principal was undeterred by the fact that Iran’s International Mathematical Olympiad team had never fielded a girl, Mirzakhani said. “Her mindset was very positive and upbeat — that ‘you can do it, even though you’ll be the first one,’ ” Mirzakhani said. “I think that has influenced my life quite a lot.”

Meet Maryam Mirzakhani, the First Woman to Win Math’s Most Prestigious Prize:

http://www.wired.com/2014/08/maryam-mirzakhani-fields-medal/

http://www.bbc.co.uk/news/science-environment-28739373

The persistence that enabled us to see Pluto up close

Thanks to Michael Minovitch, who first proposed gravity assist maneuver…

http://www.bbc.co.uk/news/science-environment-20033940

Undeterred by the fact that some of the finest minds in history, including Isaac Newton hadn’t solved the three-body problem, Minovitch became focused on cracking it. He intended to use the IBM 7090 computer to home in on a solution using a method of iteration.

In his spare time, whilst studying for his PhD during the summer of 1961, he set about coding a series of equations to apply to the problem.

Feeding data on planetary orbits into his model, Minovitch had made progress by the autumn, but was anxious to check his data. So in the summer of the following year during an internship at Nasa’s Jet Propulsion Lab (JPL), he persuaded his boss to give him more accurate data on planetary positions to re-test his model.

To his delight, he ran the simulations again and found his solution still worked. What he had achieved made possible an extraordinary breakthrough in spacecraft propulsion.”

 

Leila Janah

I really admire her works!

Meet the woman who finds tech jobs for the world’s poorest:

http://www.wired.com/2015/07/leila-janah-samagroup/

Persyaratan Bahasa Inggris Untuk Masuk Universitas Oxford

Salah satu syarat masuk Universitas Oxford adalah kemampuan bahasa Inggris yang baik.

Berapa sih nilai TOEFL/IELTS yang dibutuhkan untuk bisa diterima di Oxford?

Ini saya kutip langsung persyaratannya dari website resmi Universitas Oxford ya:

Untuk S1, bisa dilihat di: http://www.ox.ac.uk/admissions/undergraduate/international-students/english-language-requirements

Diantaranya:

  • IELTS: overall score of 7.0 (with at least 7.0 in each of the four components)
  • TOEFL (paper-based): overall score of 600 with a Test of Written English score of 5.5
  • TOEFL (internet-based): overall score of 110 with component scores of at least: Listening 22, Reading 24, Speaking 25, and Writing 24.

Gimana cara dapat nilai TOEFL/IELTS yang tinggi?

Kalau menurut saya, harus banyak-banyak berlatih dan membiasakan diri menggunakan bahasa Inggris. Tidak ada jalan pintas hehe.

Saya pribadi dulu tidak ikut kursus persiapan TOEFL/IELTS, tapi saya banyak berlatih menggunakan tes tryout TOEFL (tes prediksi TOEFL). Semakin banyak berlatih, kamu akan semakin terbiasa dengan jenis dan format soal-soal yang diujikan, dan kamu akan merasa lebih percaya diri (ini penting! karena kalau kamu gugup, ini bisa berpengaruh ke kinerjamu di hari H dan akibatnya skormu bisa berkurang beberapa poin).

Saran saya juga, persiapkan dari jauh-jauh hari supaya hanya butuh ambil tes satu kali saja, karena tes TOEFL/IELTS yang resmi itu mahal kan… 🙂

 

Suka-duka mahasiswa S3 di Oxford

Wah… bakal bisa panjang kalo ngomongin suka-duka jadi mahasiswa doktoral.

Dan sepertinya saya ga sendirian, kalau kita lihat dari popularitas PhDComics (yang kebanyakan membahas dukanya… haha).

Tapi, apa aja sih suka-duka jadi mahasiswa doktoral di Oxford? Yang lebih spesifik gitu?

Baiklah, berikut ini suka-duka jadi mahasiswa S3 di Oxford versi saya:

Sukanya:

– Waaa, kota kecil!

Saya sebenarnya dibesarkan di kota besar (*pasang soundtrack “ke Jakarta aku, kan kembaliiii…”*), dan pertama pindah ke Oxford, langsung…. kaget. Ini apa sih, sepi banget? Dimana orang-orangnya?

Tapiii setelah hampir tiga tahun disini, saya jadi merasa nyaman dengan kota kecil. Kemana-mana bisa naik sepeda! Hampir ga ada macet! Mau ke supermarket tinggal jalan kucluk-kucluk ga perlu naik mobil, ga perlu kena macet. Tingkat polusinya rendah, ydaranya masih jauh lebih bersih dan segar… tiap pagi saya selalu dibangunkan oleh simfoni sekelompok burung di halaman belakang rumah. Kadang-kadang kezel bgt sama burung-burung itu, tapi ya inikan berarti bagus… burung aja masih mau menghirup udara di belakang rumah saya.

– Relatif aman dan tentram

Namanya pun kota kecil, relatif lebih ga neko-neko. Ga ada yang namanya geng motor dsb. Yang paling sering ya paling… maling sepeda.

Saking adem-ayemnya kota ini, sampai beberapa waktu lalu ada kebakaran di dapur sebuah hotel, langsung semua heboh! Belasan truk pemadam kebakaran dikerahkan, helikopter pemantau berputar-putar seharian… Padahal menurut ukuran Jakarta ini kebakaran levelnya kecil banget loh (area yang rusak hanya beberapa meter persegi, dan yang terpenting tidak ada korban luka atau korban jiwa sama sekali), tapi disini langsung dikategorikan sebagai kebakaran major.

– Banyak sumber ilmu yang melimpah-ruah

Di Oxford ada banyaaaaak sekali kuliah, seminar, diskusi, workshop, debat dll yang bisa diikuti dengan gratis. Dan tentunya dengan kualitas tinggi! (karena para ahli terbaik di bidangnya dari seluruh dunia datang ke Oxford). Segala macam topik pun ada. Mau ikut workshop cara carbon-dating? Ada. Mau ikut diskusi dengan para kepala negara? Bisa.

Sampai bingung milihnya…

Ah, seandainya saya bisa mengkopi diri saya untuk hadir di semua acara ini…

 

Dukanya:

– Standar para pembimbing saya yang tinggi.

Lho ini bukannya seharusnya masuk bagian ‘Suka’ ya?

….

Iya sih, saya bersyukur sekali punya pembimbing-pembimbing yang brilian… tapi kan… kadang-kadang (baca: setiap hari) suka ga pede. Belum ketemu pembimbing saya aja saya sudah bisa membayangkan reaksi mereka… Biasanya dalam beberapa detik langsung ngeh dengan apa yang saya omongin dan bisa langsung mengkritisi dengan detail. Yah Kakak*, gimana caranya bisa langsung tahu kelemahan analisa saya ini sih Kak? Padahal saya yang sampai semalaman ga tidur mikirin ini, ga kepikiran tuh… hiks.

*Kenapa saya panggil Kakak disini? Soalnya pembimbing saya yang kedua ini masih muda banget! Usianya hanya satu tahun diatas saya, tapi pengalamannya… Waw! (jauuuhhh). Saya biasanya memanggil beliau dengan nama depan saja sih, sesuai tradisi disini, tapi di blog ini saya akan menyebut beliau dengan tambahan Kakak, sesuai tradisi Indonesia 😀

Nah, kalau pembimbing saya yang pertama, jauh lebih tua dan lebih senior, jadi tentunya akan saya panggil dengan sebutan Ibu 🙂